Kembali ke Halaman Muka

♪♥♫ Malamku Untuk Ilmu ♪♥♫

♪♥♫ Malamku Untuk Ilmu ♪♥♫ Jakarta, 10 Februari 2010. Bismillaahir rohmanir rohiim... :) Hnghhh... (senyum dan helaan nafas bahagia) Malam-malamku untuk merajut ilmu pengetahuan yang kupetik, menjauhi pria yang sekadar iseng dan bertaburan kata-kata 'kosong'. Aku mondar-mandir untuk menyelesaikan masalah sulit, lebih menggoda daripada ketampanan dan harta bendanya. Bunyi 'tuts keyboard" oleh sentuhan jemariku yang menari-nari di atasnya, lebih romantis daripada sekadar perhatian dan kekasih. Bagiku lebih indah berada di tengah-tengah saudara-saudariku yang sedang terpuruk, daripada mengikuti kecenderungan sejenisku menghabiskan harinya dengan bersolek dan keluyuran di mall atau keriaan lainnya. Wahai yang berusaha mencapai kedudukanku lewat angannya... Sungguh jauh jarak antara orang yang 'diam' dan yang naik..! Apakah aku yang tidak tidur selama dua purnama, dan engkau yang tidur nyenyak akan menyamai 'derajatku'...? Duhai engkau pemilik hati yang 'mengatakan' berkeinginan selamat, sudikah dirimu kuajak bergabung untuk mengarungi perkara besar ini...? Sadarilah dengan sepenuh hatimu wahai calon bidadari Jannah, bahwa hasil akhir itu berdasarkan apa yang sebelumnya engkau upayakan dengan istiqomah. Maka kegemilangan dunia dan akhirat pun insyaAllah akan bergulir atas izin-Nya... Barakallaahu fiikum, Wassalamu'alaykum wr.wb. ~Jeanny Dive~ POST SCRIPT :) Ketika bidadari Jannah "mengepakkan sayapnya" di alam raya, maka pesona dan keharumannya, membuat debaran jantung, terdengar hingga di pulau seberang... Tidakkah engkau dan kamu menginginkannya... ?

Kamis, 10 Desember 2009

(Tanya - Jawab) : MASALAH PERCERAIAN

Jeanny Dive Untuk Islam




(Tanya - Jawab) : MASALAH PERCERAIAN




Bismillahir rohmanir rohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wa barokaatu.


Saudara-saudariku tercinta rahimakumullaah…

Berikut ini ada sebuah pertanyaan dari saudara/saudari kita yang diizinkannya untuk di publish, sebagai berikut :

---------------------------------------------------------
Bagaimana hukumnya dan dampaknya dlm kehidupan ini bagi orang yang sudah bercerai tp masih tinggal dlm satu rumah padahal dia sangat mengerti akidah yang berlaku dan tdk jarang menasehati orang lain, apakah yang demikian tdak termasuk dalam kemnafikan ?
---------------------------------------------------------

Oleh karena pertanyaan ini bersifat umum, dan Jean juga (kurang) mengetahui secara persis apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga tersebut, insyaAllah kami akan menjawabnya sebegai berikut:

Seseorang yang bukan muhrim, tentu saja haram hukumnya menginap di rumah seorang lain yang bukan muhrimnya. Namun dalam kasus di atas, bisa jadi tidak sama persis “hukumnya” sebagaimana ikhwan dan akhwat yang tidak menikah namun mereka tinggal dalam satu atap. Sebab untuk permasalahan di atas, dikatakan mereka telah bercerai, dan lingkungan di sekitarnya pun (mungkin) ada yang mengetahui, atau tidak mengetahui sama sekali. Maka dalam pergaulan masyarakat, setidaknya mereka pernah menikah dan terbentuklah suatu keluarga.

Kita pun tidak mengetahui apa alasannya, sehingga mereka masih tetap tinggal serumah. Apakah karena mereka berebut harta, atau si suami belum memiliki tempat tinggal, atau bisa jadi lantaran menimbang perasaan anak-anak mereka, wallahua’lam.

Permasalahan yang tengah mereka hadapi itu sesungguhnya hanya Allah ta’ala yang paling mengetahui di samping diri mereka masing-masing. Maka dalam hal ini diluar sebab pengetahuan mereka terhadap agama, atau membuat orang lain yang mengetahuinya jadi berburuk sangka (meski) tidak harus demikian, sebab bila mereka masih saling mencintai tentu tidak akan bercerai, dan kalau benar mereka tahu agama, tentu mereka pun harus menikah lagi bila hendak melanjutkan pernikahannya. Maka dengan mendapati kondisi seperti ini kita tak berhak menghukuminya sebagai orang yang munafik.

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang telah menciptakan lagit dan bumi, dan Dia telah menciptakan segenap makhluk ciptaan. Segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi di alam ini, sesungguhnya Allah ta’ala mengetahuinya. Akan tetapi kita tidak bisa mengetahui ilmu Allah ta’ala, sehingga kita pun tak bisa menghukumi apa-apa yang ada di dalamnya.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menganugerahi kepada kita akal, kemampuan membedakan, dan kekuatan individu, yang mampu membedakan kebaikan dan keburukan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad:10),“Sesungguhnya Kami telah menunjukkannya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insan:3).

Sesuai dengan kadar kemampuan inilah Allah ta’ala akan meng-hisab kita. Allah ta’ala akan meng-hisab-nya atas dosa yang telah diperbuatnya, mengingat dia orang yang berakal, merdeka, dan mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan.

Allah subhanahu wa ta’ala memang tidak melarang perceraian, namun DIA tidak menyukainya. Maka apabila mereka yang telah bercerai itu adalah orang-orang yang beriman, tentu mereka telah mengetahui syari’at perceraian, dan dampaknya terhadap masyarakat sosial yang ada di sekelilingnya.

Semoga Allah ta’ala berkenan memberikan taufiq dan hidayah-Nya, sehingga mereka dapat segera berbuat lebih baik dan benar, ketimbang menjadikan fitnah bagi orang-orang lain yang tidak mengetahuinya. Alangkah lebih baiknya lagi apabila mereka bersepakat menyatukan ikatan pernikahan yang sempat berpisah itu, menjadi satu lagi hingga sakrotul maut-lah yang memisahkan mereka. Allahumma aamiin…

Demikian jawaban yang dapat Jean berikan, dan apabila di antara saudara-saudariku sekalian ada yang ingin menambahkan atau mengoreksinya, sungguh itu akan lebih baik lagi.


Jazakumullaah khairan katsiiroo…
Wassalamu’alaykum wr.wb.
~Jeanny Dive~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih Jean untuk kesediaan Anda memberikan komentar